RSS

Asia Tenggara Sebagai Kesatuan Wilayah Sejarah dan Kebudayaan Islam

Pendahuluan

Miniatur dunia adalah Asia Tenggara. Dengan segala kelebihannya, Asia Tenggara bolehlah bangga, tapi ada satu hal yang sebetulnya masih menjadi pekerjaan rumah bagi setiap penduduknya, yaitu menjadikan Asia Tenggara sebagai kiblat dunia.
Selama ini kita hanya bisa berbangga diri tanpa bisa menikmati secara optimal kelebihan yang kita miliki. Kita mempunyai kekayaan alam yang melimpah ruah, kaya akan kebudayaan yang wah, dan memiliki intelektual yang tak kalah dari belahan dunia lain. Namun, semua itu hampir tak ada artinya jika melihat realita yang ada. Kemiskinan di mana-mana, kebudayaan kita seolah tak memiliki arti karena minimnya ekspose dan pamor, serta kebodohan yang melanda.
Jika demikian, apa yang salah dengan Asia Tenggara? Apakah latar belakang geografinya tidak mendukung bagi kemajuan Asia Tenggara? Apakah corak budaya dan intelektual kawasan ini terlalu kuno sehingga tidak dapat menyesuaikan diri dengan abad modern? Atau sistem politik dan kebijaka ekonominya yang menyebabkan sedemkian rupa? Lalu, pasca masuknya Islam, apakah ia dapat memberi peran yang signifikan sehingga tidak hanya berkutat di ranah harapan?
Dalam makalah ini, saya mencoba sedikit mengurai tentang latar belakang Asia Tenggara, penduduknya, ekonominya, potensinya serta corak budaya dan intelektual untuk dapat menggali permasalahan yang ada di kawasan tersebut sehingga dapat mengangkat pamor Asia Tenggara yang selama ini dikenal sebagai kawasan kelas dua.
Dan tentunya dalam pembahasan ini, saya mengedepankan Islamnya, bukan hanya saja karena saya seorang muslim, melainkan karena memang hal ini adalah bagian pembahasan saya dan karena Islam memiliki potensi yang sangat besar –selain daripada banyaknya penduduk muslimnya- untuk mengangkat Asia Tenggara. Selain itu latar belakang sejarah Islam itu yang unik juga menambah interest bagi saya untuk lebih mengedepankan Islam daripada agama atau kepercayaan dan ideologi yang lain yang berkembang di Asia Tenggara.

A. Asia Tenggara
Kawasan ini merupakan salah satu kawasan kuno di dunia jika dilihat adanya penduduk yang hidup di wilayah ini. Hal ini dilihat dari banyaknya penemuan fosil-fosil manusia purba di beberapa wilayah Asia Tenggara, terutama di Indonesia.
Sebagai makhluk yang elum berperadaban, pada mulanya mereka hidup dengan cara berburu binanatng-binatang liar dengan cara nomaden. Namun seiring berkembangnya anak keturunannya, mereka mulai memikirkan suatu pola hidup yang baru. Dan mulailah mereka menetap yang kemudian berkembang dari sistem perburuan menjadi pertanian, meski pada mulanya mereka tetap mempertahankan perburuan. Namun pada perkembangannya, mereka mulai menemukan sistem bercocok tanam yang baik dan mengumpulkan bahan makanan.
Sekitar abad ke-5 SM, penduduk dari daerah Dongson, yang sekarang termasuk dalam wilayah Vietnam, telah mampu menguasai keterampilan dasar pengolahan logam. Hasil kebudayaan logam mereka adalah yang paling tua yang telah ditemukan oleh para arkeolog di Asia Tenggara. Sedangkan masyarakat terawal yang diketahui di Thailand - yaitu sekitar tahun 3,000 SM - berlokasi di daerah Ban Chiang.
Pada sekitar tahun 2,500 SM, bangsa Melayu mulai menyebar di wilayah semenanjung dan memperkenalkan teknologi primitif pengerjaan logam yang telah mereka kuasai di wilayah ini. Sekitar tahun 1,500 SM, bangsa Mon mulai memasuki wilayah Burma, sedangkan bangsa Tai datang lebih belakangan dari daerah selatan Tiongkok ke daratan Asia Tenggara untuk kemudian menempatinya pada sekitar milenium pertama Masehi.
Perkembangan jumlah penduduk menuntut adanya suatu sistem yang dapat mengatur keberlangsungan hidup mereka, sehingga mulailah berdiri kerajaan-kerajaan di wilayah ini. Paa umumnya, kerajaan ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu kerajaan-kerajaan agraris dan kerajaan-kerajaan maritim.
Kegiatan utama kerajaan-kerajaan agraris adalah pertanian. Mereka kebanyakan terletak di semenanjung Asia Tenggara. Contoh kerajaan agraris adalah Kerajaan Ayutthaya, yang terletak di delta sungai Chao Phraya, dan Kerajaan Khmer yang berada di Tonle Sap. Kerajaan-kerajaan maritim kegiatan utamanya adalah perdagangan melalui laut. Kerajaan Malaka dan Kerajaan Sriwijaya adalah contoh dari kerajaan maritim.
Tidak banyak yang diketahui mengenai kepercayaan dan praktek keagamaan Asia Tenggara, sebelum kedatangan dan pengaruh agama dari para pedagang India pada abad ke-2 Masehi dan seterusnya. Sebelum abad ke-13, agama-agama Buddha dan Hindu adalah kepercayaan utama di Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan di daratan (semenanjung) Asia Tenggara pada umumnya memeluk agama Buddha, sedangkan kerajaan-kerajaan di kepulauan Melayu (Nusantara) umumnya lebih dipengaruhi agama Hindu. Beberapa kerajaan yang berkembang di semenanjung ini, awalnya bermula di daerah yang sekarang menjadi negara-negara Myanmar, Kamboja dan Vietnam.
Kegiatan utama kerajaan-kerajaan agraris adalah pertanian. Mereka kebanyakan terletak di semenanjung Asia Tenggara. Contoh kerajaan agraris adalah Kerajaan Ayutthaya, yang terletak di delta sungai Chao Phraya, dan Kerajaan Khmer yang berada di Tonle Sap. Kerajaan-kerajaan maritim kegiatan utamanya adalah perdagangan melalui laut. Kerajaan Malaka dan Kerajaan Sriwijaya adalah contoh dari kerajaan maritim.

B. Corak Budaya
Tak dapat disangkal lagi bahwa budaya Asia Tenggara merupakan salah satu yang terkaya di antara kawasan-kawasan di dunia yang lain. Sebagai kawasan kepulauan, bahkan terdiri dari puluhan ribu pulau yang tersebar di sepanjang kawasan, Asia Tenggara memiliki ribuan pula budaya. Bahkan di Indonesia saja, setiap suku memiliki budaya yang berbeda-beda. Padahal terdapat begitu banyak suku tersebar di sepanjang Nusantara.
Dan dari ratusan kebudayaan yang ada di Asia Tenggara, hampir tak ada satu pun yang sama. Semua memiliki karakter dan ciri khasnya masing-masing. Dan kedatangan bangsa Tiongkok dan Arab pada masa selanjutnya semakin menghias warna corak budaya Asia Tenggara. Kedatangan mereka bukannya mengikis atau menghapus budaya-budaya lokal, melainkan dengan melakukan akulturasi sehingga memperbanyak variasi budaya bangsa. Suatu hal yang akan berbeda sama sekali ketika kedatangan bangsa Eropa.
For instance, argues that the influence of Islam is simply a veneer over Malay-Indonesian indigenous culture.
Sebuah kekayaan yang tidak dimiliki oleh bangsa atau kawasan yang lain. Perpaduan budaya lokal dengan budaya asing seperti India, Arab dan Tiongkok menjadikan Asia Tenggara sebagai miniatur dunia.
Pada umumnya, kedatangan budaya baru sedikit banyak akan mengikis budaya lama. Namun kedatangan Islam mementahkan anggapan seperti itu dengan melakukan mengintegrasikan diri budaya lokal. Sehingga budaya atau adat lokal tetap bertahan, hanya saja dikemas dalam nuansa keislaman. Kita bisa ambil contoh dalam budaya tahlil atau muludan dan sekatan. Sebuah budaya lama yang telah diakulturasi. Dan masih banyak budaya-budaya lain yang telah berakulturasi. Hal ini menyebar di budaya-budaya Jawa, Sunda, Banten, Aceh, dan sebagian besar Sumatera.
Bahkan, hampir di semua budaya yang ada di Indonesia berakar pada Islam. Penggunaan kalender hijriyah, tradisi ukhuwah/silaturrahmi, dan upacara-upacara ritual yang berangkat dari adat seperti empat bulanan atau tujuh bulanan, selamatan, syukuran, pindahan, dan lain-lain. Dalam penggunaan bahasa pun, bahasa Arab merupakan bahasa yang paling banyak diserap kata-katanya ke dalam bahasa di kawasan Asia Tenggara terutama Indonesia.

C. Sistem Politik dan Ekonomi
Jika dibandingkan dengan kawasan dunia lain, Asia Tenggara bukanlah representasi unggul suatu sistem perpolitikan. Hal ini dikarenakan adanya semacam ”anutan” sistem politik yang berlaku di kawasan lain seperti India dan Arab (Islam). Berdirinya kerajaan-kerajaan, baik yang bernuansa Hindu-Buddha ataupun Islam, di hampir semua kawasan Asia Tenggara. Otomatis hanya Sriwijaya saja salah satu kerajaan terbesar yang pernah berkuasa di Asia Tenggara, dan bahkan sistem yang dianutnya pun bahan impor dari India yang bercorak Hindu.
Begitu pula dengan kerajaan-kerajaan Islam, seperti Samudra Pasai, Demak dll, yang mengimpor dari tanah Timur Tengah. Malah dikatakan bahwa kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berkuasa di Asia Tenggara merupakan simpul dari khilafah yang berdiri di Timur Tengah (Daulah Utsmaniyah).
Sistem seperti ini –sistem impor- masih menjadi warna di Asia Tenggara hingga zaman kolonialisme. Dan zaman kolonialisme merupakan zaman tergelap sepanjang sejarah Asia Tenggara. Hampir semua wilayah itu dikuasai oleh koloniasme bangsa Eropa (Barat). Dimulai datangnya bangsa Spanyol di daerah Philipina dan Indonesia Timur, kemudian Portugis, Inggris di Malaysia dan Belanda di Indonesia.
Entah karena telah membudaya atau memang minimnya sumber daya manusia, seolah sistem impor ini masih bertahan hingga terusirnya penjajah (kolonialisme) dari Asia Tenggara. Meski secara formal sudah merdeka, tapi pada hakikatnya penjajahan masih berlangsung terutama di bidang ekonomi. Dalam hal ini, kiranya kita perlu mengkaji ulang teori Karl Marx yang mengatakan bahwa faktor ekonomilah yang paling mempengaruhi sejarah dibanding faktor politik. Kita tidak dapat menyangkal kekayaan alam Asia Tenggara yang sangat potensial bagi keberlangsungan intern, bahkan untuk dunia. Tapi faktanya, kemiskinan masih melanda banyak penduduk Asia Tenggara.
Perpolitikan Asia Tenggara memang terlihat biasa tanpa permasalahan serius. Hanya sedikit permasalahan yang pernah terjadi antara Indonesia-Malaysia beberapa waktu silam jika dibandingkan kerjasama yang pernah terjalin. Tapi jika menyangkut intern dalam negeri di tiap-tiap negara Asia Tenggara, hampir semuanya pernah mengalami kekacauan. Bahkan sebagian dimotori oleh gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam. Seperti yang terjadi dengan the Moro National Liberation Front (MLNF) di Philipina yang menjadi oposisi pemerintahan, Pattani Thailand, hingga DI/TII, atau Gerakan Aceh Merdeka beberapa tahun silam.
Dalam perekonomian, Asia Tenggara sebetulnya memiliki potensi yang sangat besar. Tanah kepulauan yang membentang luas nan subur menjadikan wilayah tersebut sangat potensial untuk perkebunan dan pertanian segala jenis bahan makanan. Kaya akan minyak bumi dan gas alam menjadikan Asia Tenggara salah satu seumber energi dunia. Hutan dan cagar alam, segala jenis binatang, semua hadir di kawasan kepulauan ini. Sebuah fakta yang yang bertolak belakang dengan banyaknya penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Lalu siapa yang patut disalahkan?
Adalah ’PR’ bersama masyarakat Asia Tenggara untuk bisa memanfaatkan semua potensi yang ada. Baik potensi yang diberikan kepada alam, ataupun kepada diri setiap orang.

D. Masuknya Islam dan Tradisi Intelektual
Masuknya Agama Islam menjadi salah satu kajian yang paling menarik dalam hubungannya dengan Asia Tenggara. Selain karena persoalan proses masuknya yang melalui berbagai macam proses dan cara yang unik , juga karena munculnya bukti-bukti yang berbeda mengenai waktu datangnya Islam.
Beberapa bukti menyebutkan bahwa kedatangan Islam pertama kali di kawasan ini sekitar abad VII Masehi, namun banyak pula yang mengatakan bahwa kedatangan Islam pada abad XIII. Sebetulnya hal ini bukanlah suatu yang bertolak belakang jika kita bisa menggunakan kata-kata yang tepat dalam menyebutkan kedatangan dan penyebaran Islam. Kebanyakan menyebutkan abad XIII adalah waktu paling masuk akal tentang masuknya Islam, hal ini dikarenakan pada masa itu mulai berdiri kerajaan-kerajaan Islam.
Lalu apa yang bisa kita gali dari masuknya Islam ke kawasan Asia Tenggara, sehingga perlu kiranya diadakan pembahasan mengenai poin tersebut?
Masuknya Islam bukan saja membawa suasana baru di wilayah ini melainkan juga telah mengubah berbagai aspek kehidupan yang pernah ada. Sebagai agama, Islam membawa pemahaman yang baru sama sekali dari kepercayaan-kepercayaan yang pernah ada. Konsep-konsep baru yang turut membawa masyarakatnya ke dalam peradaban baru. Egaliterisme menjadi mainstream dalam penyebaran Islam. Pengkastaan yang ada dalam konsep Hindu menjadikan Islam lebih menarik untuk dianut.
Bagi Islam sendiri, penyebarannya di kawasan Asia Tenggara seolah ingin membuktikan diri bahwa Islam adalah agama yang universal yang bisa berkembang di semua zaman dan tempat. Lebih utama lagi bahwa Islam bukanlah agama yang penyebarannya dengan mengangkat pedang seperti di kebanyakan wilayah Arab.
Di samping itu semua, kedatangan Islam juga menjadi poros bagi pengembangan intelektual kawasan Asia Tenggara. Hal ini bisa kita buktikan dengan berdirinya forum-forum ilmiah tradisional yang berkembang di meunasah, surau, atau langgar-langgar yang berkembang menjadi lembaga pondok pesantren. Meunasah adalah bangunan kecil untuk ibadah yang pada masa selanjutnya digunakan sebagai forum pembelajaran al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama. Sebuah pengertian yang hampir sama dengan surau atau langgar. Namun jika menyangkut pondok pesantren, maka kita akan mendapati definisi yang berbeda.
Secara etimologis, pondok pesantren berasal dari dua kata; pondok (funduq) yang berarti asrama/hotel, dan pesantren (jamak dari santri/cantrik) yang berarti mengikuti guru. Jadi dapat dikatakan bahwa pondok pesantren adalah tempat di mana santri tinggal, menurut Gus Dur, atau tempat santri belajar agama Islam, menurut Mahmud Yunus.
Pesantren memiliki posisi yang sentral bagi eksistensi Asia Tenggara, terutama Melayu-Indonesia. Selain sebagai pusat pengembangan intelektual, pesantren pada perkembangannya juga berperan bagi eksistensi bangsa dalam mempertahankan identitasnya. Bukan hanya aspek keagamaan saja yang berkembang di lingkungan pesantren, melainkan juga aspek perpolitikan dan perjuangan bangsa, di samping aktualisasi seni dan budaya di beberapa pesantren tertentu.
Selain itu, gerakan-gerakan pembaruan turut mewarnai pergerakan Asia Tenggara. Bahkan, Gerakan Padri merupakan salah satu tonggak utama dalam sejarah pembaruan Islam di Indonesia. Pengaruhnya terhadap perkembangan Islam Melayu-Indonesia sangat besar. Gerakan Padri menggugat bukan hanya tingkat pembaruan di kalangan tarekat, tetapi lebih penting menantang formulasi yang telah mapan mengenai hubungan antara tradisi besar Islam di pusat-pusat dan tradisi kecil Islam yang bercampur adat pada tingkat lokal.

E. Peran Islam Asia Tenggara
Membicarakan peran Islam sebetulnya sedikit banyak telah disinggung di atas. Islam sebagai agama, juga menyebar ke ranah budaya. Dalam hal ini, kedatangan Islam tidak mengikis atau bahkan menghilangkan suatu budaya tertentu, melainkan dengan mengakulturasikan suatu budaya lokal ke dalam budaya Islam. Peran ini juga membawa efek ke dalam persoalan intern Islam, seolah Islam ingin menunjukkan diri bahwa Islam merupakan agama universal yang relevan dengan segala tempat dan zaman. Islam merupakan agama yang paling banyak dianut oleh beragam etnik dan budaya.
Berkenaan dengan masalah ini, banyak tokoh dan pakar sejarah Islam yang memprediksikan bahwa Asia Tenggara adalah calon yang paling potensial untuk menjadi kiblat peradaban Islam di dunia.
Dalam masalah kebangsaan, Islam juga memiliki peran yang signifikan ketika memperjuangkan kemerdekaan suatu bangsa, terutama bangsa Indonesia. Kita bisa menyaksikan pahlawan-pahlawan nasional yang berlatar belakang seorang ulama (ahli agama Islam), atau perjuangan kelompok muslim dalam mengusir penjajahan seperti Perang Padri, Perang Diponegoro, Pertempuran Mataram Islam melawan Belanda, dan sebagainya.
Dalam bidang intelektual, Islam juga membawa masyarakatnya ke dalam nuansa berkeilmuan dengan banyaknya lembaga-lembaga pengkajian baik formal maupun non-formal. Pondok pesantren bahkan menjadi salah satu kiblat pengetahuan dalam intelektual, terutama Islam. Selain itu, Islam juga telah mengirimkan duta-duta yang berprestasi untuk belajar ke luar kawasan dan menjadi agen-agen perdamaian dan pengetahuan dunia.

Kesimpulan
Asia Tenggara, sebagai miniatur dunia, memiliki segala potensi yang ada untuk melangkah maju. Tinggal bagaimana penduduknya memanfaatkan potensi yang ada pada alam dan pada dirinya sendiri. Tidak mustahil Asia Tenggara menjadi kiblat dunia.
Mayoritas penduduknya yang muslim seharusnya menjadi nilai lebih kawasan ini untuk tetap berkembang, bukannya stagnan. Islam yang telah menunjukkan dirinya sebagai agama universal yang cocok di segala tempat dan zaman merupakan modal yang bagus dalam meningkatkan budaya-budaya lokal, bahkan budaya lokal yang tampil dengan warna yang berbeda dengan sedikit sentuhan keislaman. Seyogyanya hal ini dapat mengangkat pamor Asia Tenggara yang selama ini dikenal sebagai kawasan kelas dua.
Budaya intelektual yang mulai sudah pun seharusnya tidak lantas disiakan. Keberadaan sekolah-sekolah muslim dan pesantren merupakan pertanda kemajuan Asia Tenggara di bidang intelektual. Tidaklah pantas seandainya kita masih menyaksikan ribuan penduduknya harus bergelut dengan kebodohan yang membawanya pada garis kemiskinan. Padahal alam Asia Tenggara tidak menghendaki penghuni hidup di bawah garis kemiskinan.

Daftar Pustaka
1. Tsuwan, Surin Pit. 1985. Islam and Malay Nasionalism: A Case Study of The Malay-Muslim of Southern Thailand. Thammasat University: Thai Khadi Research Institute.
2. Esposito, John L. 1987. Islam in Asia: Religion, Politics, and Society. New York: Oxford University Press.
3. Ambary, Hasan Muarif. 1998. Menemukan Peradaban: Arkeologi dan Islam di Indonesia. Jakarta: Puslit Arkenas.
4. Azra, Azyumardi. 1996. Islam in TheIndonesian World. Bandung: Mizan.
5. Azra, Azyumardi. 2005. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Cet.II. Jakarta: Kencana.
6. Noer, Deliar.1994. Gerakan Modern Islam di Indonesia. Cet.VII. Jakarta: LP3ES.
7. Soempeno, Drs. Ahmad, MA. Pembelajaran Pesantren: Suatu Kajian Komparatif. T.t.
8. Wikipedia Indonesia
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sruksrak!!!

Perjumpaanku denganmu
tak ubahnya sebuah pertemuan yang memabukkan
Kau adalah anugerah meski
tak jarang kau melahirkan rasa gelisah

Tuhan yang Maha Sombong
mengejawantahkan Dirinya pada sosokmu

aku tak ubahnya Musa
yang luluh melihat wajah Tuhannya
hasrat yang begitu menggebu
tak sejalan dengan kemampuanku

kebanyakan orang bertindak
atas dasar kekhawatiran
tapi aku belum juga melangkah
meski begitu dalam kekhawatiran itu
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS